Squid Game

13 Jun 2025

thumbnail

Hi Warga, 

Netflix kembali merilis serial Squid Game Season ketiga pada 27 Juni 2025. Sejak pertama kali dirilis pada 2021, serial ini menjadi satu di antara serial yang yang paling sukses di dunia. 

Bahkan, tidak hanya dalam dunia film, tetapi juga telah menjelma menjadi fenomena bisnis. Nah, kok bisa?

Sebagai contoh, misalnya, PX Mart, jaringan supermarket terbesar di Taiwan. Dilansir dari Businessweekly.tw, PX Mart dikabarkan telah menggelontorkan 100 juta Tuan untuk kolaborasi promosi. 

Nominal tersebut diklaim sebagai anggaran promosi terbesar di Taiwan. Dalam skala global, brand sport apparel, Puma, bahkan meluncurkan promosi koleksi olahraga khusus Squid Game di beberapa negara. 

Lantas, apa yang bisa dipelajari dari serial ini oleh para Solopreneur yang ingin atau sedang membangun dan mengembangkan usaha? Jawabannya terletak pada dua hal, yaitu Gamifikasi dan Simbolisme. 

Squid Game bisa dibilang adalah studi kasus tentang bagaimana membangun pengalaman yang emosional, menarik, dan visual nyata tentang psikologi manusia. 

Setiap usaha, baik itu besar atau kecil, tentu memerlukan beberapa hal tersebut untuk bertahan dan berkembang pada era digital. 

Kenapa "Game" Bisa Menyentuh Hati Konsumen?

Dalam buku Gamification Practice Book, terdapat delapan motivasi utama mengapa orang tertarik bermain dan terlibat dalam ruang lingkup pemasaran. Detailnya sebagai berikut: 

  • Misi dan Panggilan: Rasa ingin memiliki makna dan kontribusi
  • Pencapaian dan Tantangan: Semangat menyelesaikan tugas
  • Kreativitas dan Umpan Balik: Kepuasan menciptakan sesuatu dan mendapatkan apresiasi
  • Kepemilikan: Rasa memiliki dan kontrol atas sesuatu hal
  • Pengaruh Sosial dan Empati: Dorongan interaksi dan pengakuan dari orang lain
  • Kelangkaan dan Urgensi: Takut tertinggal
  • Ketidakpastian dan Rasa Ingin Tahu: Penasaran akan hasil
  • Ketakutan Akan Kehilangan: Dorongan menghindari kerugian

Dari delapan poin elemen ini, jika kita gambarkan dalam diagram, kurang lebih sebagai berikut: 

((image diagram))

Mengacu diagram di atas, season pertama serial Squid Game mampu memanfaatkan motivasi inti dari kuadran kiri atas (hadiah total sebesar 45,6 miliar won), kuadran kiri bawah (hanya satu orang yang bisa menang), dan kuadran kanan bawah (jika kalah, akan tewas) untuk mendorong 197 peserta mempertaruhkan nyawa mereka. 

Dengan kata lain, serial Squid Game mampu memaksimalkan motivasi negatif internal dan eksternal serta motivasi positif eksternal untuk menciptakan permainan bertahan hidup yang digerakkan oleh rasa takut dan keserakahan.

Lantas, bagaimana melihat hal ini dari sisi bisnis? Tentu saja, kita dapat mengambil pendekatan yang lebih sehat, yaitu menggunakan gamifikasi sebagai sarana untuk meningkatkan interaksi, loyalitas, dan makna dalam setiap pengalaman pelanggan. 

Pelajaran Penting untuk Solopreneur dari “Squid Game”

1. Jadikan Game sebagai Alat Meningkatkan Interaksi

Sebagai pemilik usaha tunggal, Anda mungkin juga bertindak sebagai pemasar, penjual, sekaligus customer service. Maka salah satu strategi paling efisien untuk membangun loyalitas adalah melalui gamifikasi ringan.

Contohnya:

  • Undian khusus untuk pembeli minggu ini
  • Tantangan giveaway kecil di media sosial (“Tag 3 temanmu untuk diskon”)
  • Program loyalitas ala “stempel digital”: 5x beli, 1x gratis
  • Intinya, buat pelanggan merasa seperti sedang ikut “permainan” yang menyenangkan dan punya peluang untuk menang.

2. Susun Produk Seperti Rangkaian Level

Ketika Anda menjual beberapa jenis produk, pikirkan fungsinya masing-masing seperti ini:

  • Produk pancingan → harga murah untuk menarik pembeli baru
  • Produk utama → produk yang Anda andalkan secara margin
  • Produk subsidi → hadiah atau bonus
  • Produk viral → produk tren yang cepat laku

Setiap produk bisa dilengkapi dengan pendekatan permainan. Misalnya:

  • Produk pancingan bisa disertai waktu terbatas (“Diskon 2 jam!”)
  • Produk utama bisa diberi reward seperti free ongkir atau hadiah
  • Produk viral bisa dibuat “misterius”: hanya muncul di jam tertentu

Sebagai solopreneur, strategi seperti ini membantu Anda mengatur ritme penjualan dengan lebih dinamis—layaknya merancang level dalam game.

3. Bangun Identitas Visual yang Melekat

Salah satu kekuatan “Squid Game” adalah identitas visual yang kuat: warna hijau dan pink, simbol bulat, segitiga, kotak, dan playground nostalgia. Sekali lihat, orang langsung tahu itu dari serial tersebut.

Nah, bagaimana dengan usaha Anda?

Apakah pelanggan bisa langsung mengenali bisnis Anda dari warna feed Instagram, packaging, atau gaya bahasa yang khas? Cobalah mulai membangun elemen visual dan karakter merek yang konsisten. Bahkan kalau Anda hanya berjualan via WhatsApp atau TikTok, branding personal yang kuat bisa jadi pembeda utama.

Bagaimana Bank Saqu Mendukung Solopreneur Seperti Anda

Di Bank Saqu, kami memahami bahwa menjadi solopreneur berarti harus lincah, kreatif, dan efisien. Itu sebabnya kami hadir dengan ekosistem finansial yang ramah bagi pelaku usaha mikro dan individu kreatif:

  • Rekening Saqu dengan sistem kantong (saku) yang bisa bantu Anda memisahkan dana operasional dan tabungan
  • Fitur transaksi otomatis untuk mempermudah pencatatan keuangan
  • Reward & misi finansial yang dikemas gamifikasi, biar ngatur uang jadi menyenangkan

Kami percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat—dari pengalaman pengguna hingga tampilan visual—solopreneur bisa tampil sebesar brand besar, bahkan dengan tim satu orang.

Simulasikan Pinjamanmu

Loading...
Bank Saqu

Bank Saqu

PT Bank Saqu Indonesia adalah layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab yang berperan sebagai katalisator bagi Solopreneur dan pelaku bisnis di Indonesia.